Singkronisasi Pengajaran dan Pendidikan


Oleh Khairul Rijal

Peradaban suatu bangsa akan tumbuh dan lahir dari sistem pendidikan yang digunakan oleh bangsa tersebut. Masyarakat yang beradap adalah masyarakat yang berpendidikan (Yasmani 2002 : 58). Tumbuh kembangnya sebuah peradaban ialah tumbuh kembangnya sebuah pembiasaan, artinya pembiasaan yang lahir dari kerakter pendidikan yang semakin kreatif dan mampu menunjang prestasi sebuah bangsa. untuk itu dibutuhkan singkronisasi atau keseimbangan antara dualisme pendidikan dan pengajaran.

Kelemahanan sistem pendidikan yang dimiliki bangsa Indonesia pada dasarnya masih terletak pada penekanan kepada aspek pengajaran dari pada pendidikan. Pada dasarnya pengajaran hanya berfungsi sebagai sistem dalam tranformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, sementara pendidikan  merupakan sistem yang melakukan pendekatan kepada pertumbuhan watak, moral, sikap dan pola pikir. Maka dari itu, tidak heran jika bangsa indonesia dihuni oleh kumpulan manusia yang cerdas, akan tetapi kecerdasan tersebut ialah kecerdasan yang kosong tanpa orientasi yang baku.

Dalam Amanat Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 yaitu tentang tujuan pendidikan Nasional yang berorientasi kepada pembentukan anak didik berakhlak mulia, budi pekerti luhur, cerdas, bertanggung jawab demokratis dan mandiri harus tetap menjadi acuan agar disiplin pengajaran dan pendidikan tetap memiliki singkronisasi dan lebih mengutamakan pembinaan akhlak mulia.

Tujuan pendidikan yang ideal ialah membentuk anak didik menjadi insan yang bertaqwa. Maka dari itu orientasi pendidikan yang selama ini dijalankan harus memiliki dasar dan landasan yang tidak berubah dalam tantanan dunia pendidikan. Selain itu, sisi yang tidak mendapat perhatian khusus terkesan dibiarkan ialah Kelememahan yang bermuara pada pola implementasi yang lebih menekankan kepada aspek pengajaran bukan pendidikan. Sedangkan pengajaran bersifat kecerdasan atau mencerdaskan akan tetapi tidak menjamin terbentuknya budi pekerti. Padahal dalam dunia pendidikan bukan sebatas kecerdasan yang dibutuhkan tetapi lebih dari itu, yaitu memiliki pendidikan yang mencerdaskan dan berbudi pekerti yang tinggi. oleh karena itu sistem pendidikan yang selama ini terbentuk tidak menciptakan koheransi antara kecerdasan otak dan kecerdasan hati nurani. Tidak heran jika implementasinya acap kali tidak senyawa. berbagai kasus seperti dikte atau contek mencontek, aksi tauran yang merenggut nyawa, narkoba, dan sampai kepada ruang lingkup yang bersekala besar seperti tindakan korupsi menjadi budaya yang selama ini mewarnai wajah pendidikan di Bumi Indonesia.

Potret pendidikan yang semakin cerah merupakan sebuah mimpi dan menjadi cita-cita yang selama ini terkubur oleh tenaga dan fasilitas yang dimiliki bangsa ini. Tenaga tersebut terdapat pada peran guru dan orang tua sebagai pondasi yang dapat memerdekakan anak didik dengan memacu kemampuan kreatifitasnya untuk menghadapi tantangan disekitarnya. Akan tetapi realita yang terjadi saat ini menimbulkan tekanan tersendiri dan menjadi fenomena besar. Berbagai dilema menjadi tolak ukur tentang kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua dan guru menjadi pandangan yang terbelenggu dalam rantai yang  mematikan, yaitu rantai yang memiskinkan ilmu dan hati nurani. Maka dari itu skeptisme terhadap peran guru dalam membimbing murid menjadi fenomena besar sehingga penghargaan terhadap pahlawan tanpa jasa tersebut menjadi lumrah di mata publik. tidak lebih dari itu, peran orang tua terkadang jauh dari presfektif dan akal sehat kita selama ini bahkan kasus kekerasan rumah tangga dan anak menjadi warna yang sering tertapapar dewasa ini. maka dari itu sudah saatnya peran guru dan orang tua sebagai dasar pendidik harus dikembalikan kepada nilai dan normanya. Karena suksesnya peran guru dan orang tua merupakan jalan suksesnya singkronisasi antara pendidikan dan pengajaran.

Menurut DR Ahmad Alim sudah saatnya dunia pendidikan menekankan proses ta’bid atau prososes pendidikan yang mengarahkan peserta didiknya menjadi manusia yang berilmu dan beradab. Sebab jika adab hilang dari diri manusia maka hilang pula fitrah kemanusiaanya. Jika fitrah telah hilang maka yang terjadi adalah penyimpangan, kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah. Adab tanpa ilmu ibarat orang berjalan tanpa pentunjuk arah. Demikian ilmu dan adab harus bersinergi tidak boleh terpisah. Berilmu tanpa adab adalah dimurkai. (al-maghdub ‘alaihim) sementara beradab tanpa ilmu adalah kesesatan (ad-dhalun). (Majalah Gontor Edisi Juli 2012).

Penekanan pada aspek pindidikan yang beradab merupakan sebuah titik awal dalam tercapainya seorang peserta didik yang menjamin adanya mamfaat bagi dirinya dan bagi bangsanya. oleh karena itu perubahan sebuah bangsa dalam tercapainya pemerintahan yang bersih dan menjamin kesejahteraan terhadap rakyatnya merupakan proses dari era pendidikan yang menitik beratkan pada aspek moral yang beradap dan tercapainya sebuah keseimbangan antara pendidikan dan pengajaran.

*Penulis Adalah Permerhati pendidikan

cerpen


hujan dan masa

kucak ketika dia turun aku sering melihatnya dibalik jendala kaca yang penuh bingkai berwarna coklat tua. hujan dan rintikan buihnya menjadi sahabat dibalik lipatan kaca jendela. saat dia turun aku sering melihat keindahan, keindahan yang mengembalikan cerita, cerita yang memberikan nuansa. Ahhh, jika mengingatnya, aku seolah kembali dimana saat-saat itu aku bermain tin bersama kamu, dia, mereka yang pernah ada dalam memori itu. hujan pun berhenti sejenak. namun cerita masa kucak itu masih berjalan diatas roll memori otak kecilku. tanpa kusadari ceritaku berjalanan lebih jauh kedalam dimana saat hujanpun turun kembali dengan irama yang lebih deras, kali ini, aku pun berada di istiqomah sebuah desa yang jauh dikedalaman hutan belantara saat itu aku berada ditengah sungai yang jernih di bawah payung hutan yang menjulang tinggi. aku bersama kil ku, kami berdua dalam misi munube, kepras, ili, gerep menjadi tujuan kami berada ditengah sungai dengan sedikit buih yang jatuh dari dedaunan awal keken. ada satu manat yang tak pernah kulupakan disaat munube, kil ku bilang “jangan pernah jatuhkan parangmu kedalam air sungai”, setengah percaya ku iyakan manat dari kli ku. tapi manat itu seolah terlupakan dibalik warna keasikan ku melihat ikan yang buntang parangku pun jatuh dengan bersamaan. ternyata manat yang setengah ku percayai bahkan ku anggap mitos itu menjadi kenyataan, banyaknya tube jenu yang kami sebarkan ke tubuh sungai hanya mendaptkan satu ikan kepras. ahh….. cerita itu putus ditengah jalan seakan aku kembali ketempat yang lebih dekat tepat berada disebelah telingaku. kampung jongok belang sentang. sebuah kampung dengan warna ketenangan dan penuh keakraban. seakan aku menghilang secepat cahaya cipratan air yang menghasil warna, aku sudah berada ditengah sawah dengan dengan daun hijau yang membentang. saat itu aku bersama temanku saiful, ujang dan igo pada saat itu kami sedang memasang ontang. hmmmm cerita lama ini cukup memberikan ku senyuman tapi hujanpun berhenti bersamaan ketika aku kembali lagi di balik jendela kos ku di ciputat. rasanya cukup untuk hari ini aku menuliskannya kepada teman yang mau membacanya, tenang kawan, masih banyak pertualangan saat aku tumbuh bersama lingkungan ku di tanoh GAYO nanti akan kuceritakan.

kontemplasi Awal dan Akhir Tahun


 Oleh Khairul Rijal

Cermin kehidupan bergerak dalam lingkaran siklus dan diatur oleh sistem rasional yang bisa ditangkap oleh nalar kemanuisaan, artinya kehidupan manusia telah diatur oleh tangan tuhan melalui pergantian siang dan malam, sigot fenomena alam ini dirumuskan oleh mahkluk yang berakal dalam sistem nalar 12 bulan dalam setahun, 7 hari dalam seminggu dan 24 jam dalam sehari yang lebih akrab disebut masa (waktu). Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia semakin komplek artinya, perkembangan zaman dari masa ke-masa secara global terus meningkat sehingga memberikan efek beban bagi manusia untuk bejuang dan bertahan melawan arus globalisasi waktu yang semakin meningkat. Implikasinya, secara rasio semakin kedepan semakin lebih baik dan mengambil lembaran akhir sebagai pengalaman adalah guru terbaik. Ditangah pesatnya perkembangan dengan kompleknya sajian tatangan yang dihadapi manusia yang terus bertahan secara ekonomi, sosial dan politik menjadikan awal tahun memiliki arti lebih luas dengan berbagai tujuan yang dimiliki manusia, akan tetapi inti dari tujuan tersebut pada dasarnya bermuara kepada perubahan menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik secara universal.

Akan tetapi potret pergantian tahun yang rutin diperingati dengan awal kebahagian harus ditutup dengan gejolak dilema dramatis dengan hiruk-pikuk permasalahan yang jalan ditempat, tak lepas dari krisis multidimensial yang berkelanjutan akibat sistem demokrasi tak mampu menjawab keluhan publik yang semakin menimbulkan konflik tragis secara alami. Akhir tahun yang menjadi lembaran akhir dari segala aktifitas kehidupan berbangsa dan bernegara masih saja dibayang-bayangi oleh masalah budaya haus kekuasaan dan terbelenggu dalam lingkaran setan hedonistis. Secara explisit sigot hedonisme memang tidak dirasakan, akan tetapi dampak secara implisit cukup kuat untuk memberikan bukti bahwa negara kita masih gemar menabung masalah dengan berbagai koflik yang tak kunjung usai.

Api Tikai dan Akar Masalah

Jika kita tarik ulur kembali dilema permalahan yang hinggap ditubuh bangsa diakhir tahun ini mempuyai dua opsi yang saling berkesinambungan, artinya permasalahan yang datang silih berganti masih saja dibalut dengan bingkisan masalah lama yang menimbulkan reaksi terhadap masalah baru, berawal dari kasus Century dengan dugaan penyimpangan dalam pemberian dana talangan sebesar 6,7 triliun yang ujung-ujungnya menjadi panggung drama politik dan dijadikan sebagai alat kompromi, dari hari ke hari bahkan sampai ke tahunpun masalah ini belum menemukan titik terang. Tak cukup disini esensi pajak dari masyarakat untuk pemerintah menjadi ajang pembicaraan disaat peristiwa tangan kotor Gayus Tambunan yang menyelip jari manisnya untuk kepentingan pribadi yang tak terhitung berapa nilai sebenarnya. Nazaruddin dengan kasus suap Wisma Atlet dan kasus Nunun Nurbeiti dengan kasus suap Deputi Gubenur Senior Bank Indonesia dan berbagai kasus suap-menyuap dan tindakan hina korupsi dari pusat hingga daerah merupakan akar permasalahan yang dari tahun ke tahun yang semakin menjatuhkan martabat bangsa sendiri, sampai saat ini bangsa kita masih terbelenggu oleh kotornya karpet pemerintahan yang diisi oleh segelintir insan yang luput dari moral dan mempertontonkan gaya hidup hedonistis sehingga bangsa ini jauh dari ensensi demokrasi karena tindakan keadilan telah di telan oleh budaya haus kekuasaan demi kepentingan pribadi. Dampak yang terjadi di lembaran akhir tahun ini adalah api tikai semakin membara dengan gejolak aksi yang semakin tak masuk akal. Pada akhirnya rentetan dilema ini tak berhenti begitu saja bahkan sampai merenggut nyawa anak bangsa dengan aksi membakar diri yang datang dari hati nurani. Dua kasus berdarah Mesuji dan Bima akibat dilema sengketa lahan semakin membuktikan bahwa pendekatan secara agrari tak bisa selsaikan secara damai bahkan jauh bertolak belakang dengan ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001, tentang pembaharuan agraria dan pengelolaan sumber daya alam, jika penanganan ini semakin jauh dari hati nurani dengan sistem yang ada, maka 103 wilayah berpotensi memicu konflik SDM dan 153 kasus pertambangan yang sudah dan sedang terjadi menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) akan berujung sama seperti konflik Mesuji dan Bima di lemabaran tahun baru yang akan datang.

Kontemplasi

Kontemplasi yang berarti renungan yang disertai kebulatan pikiran. Kontemplasi  merupakan temeng pertahan yang harus diakui dan dilakukan oleh setiap individu yang hidup berbangsa dan bernegara. Sudah seyogyanya setiap napas dari kita merasakan fakta kedamaian tanpa harus berkorban dan menjadi korban. Kontemplasi menjadi penyegar yang absolut jika kita benar-benar melakukannya dari diri sendiri karena segala tindakan negative berawal dari diri sendiri. Bangsa dengan sistem demokrasi yang penuh pesona ini harus mengembalikan dekorasi keadilan dan kesejahteraan secara utuh dengan merenungkan betapa rakyat hanya menjadi objek transaksi demokrasi akibat gila kekuasaan yang dipenuhi lingkaran hawa nafsu tak pandang hati. Lembaran akhir tahun yang penuh retorika dan drama nyata ini harus ditutup dengan rasa optimisme bahwa budaya lama yang tak kunjung usai akan berakhir dengan kontemplasi dan apresiasi yang konkret. Penulis juga merenungkan sedikit ungkapan dari Chomsky pertimbangan etis politik dan ekonomi yang bersumber pada hati nurani akan membentuk sistem demokrasi partisipatif yang dapat mewujudkan keadilan.

Pendidikan Dalam Bingkai Tutur Gayo


 

Oleh khairul rijal

 

Pendidikan merupakan sebuah proses yang terbentuk secara alami dari seluruh aktivitas yang dilakukan manusia, pada dasarnya pendidikan tersebut tumbuh dan dapat diterima ketika apa yang dilihat dan dirasakan menjadi sebuah nilai dalam kontek pendidikan. tumbuh kembangnya sebuah pendidikan yang ada disebuah tempat tidak lepas dari komunikasi dan sosial yang terjalin dan membentuk sebuah keragaman dan menjadi budaya yang terus berjalan sepanjang masa. Secara garis besar ruang lingkup pendidikan tidak sebatas apa yang kita ketahui secara universal, akan tetapi memiliki makna yang begitu luas.

Menurut penulis Tutur Gayo merupakan pendidikan yang semakin dimakan oleh zaman, tak lepas dari arus modernisasi yang semakin tak mampu dibendunng oleh budaya itu sendiri, hal ini disebabkan kurangnya perhatian yang inten terhadap Tutur Gayo itu sendiri (sosialisasi, publikasi, dokumentasi dan penenelitian, Tutur Gayo), disamping itu pada saat yang bersamaan mucul sebuah kehidupan dengan gaya hedonistis yang semakin menggurita dan tumbuh tanpa batas, cukup telak memang jika kita telaah perbadaan yang terjadi dari masa ke masa. Lebih-lebih kepada tunas muda yang semakin pekat akan indentitasnya (sejarah dan budaya, Tutur Gayo).

Maka dari itu, keragaman dan kekerabatan orang gayo perlu dikembalikan dengan menyegarkan kembali Tutur Gayo itu sediri, agar pondasi pendidikan akan Tutur Gayo semakin kokoh dan dapat berjalan ditengah arus modernisasi, hal ini tidak lepas dari kepedulian, semangat lokal dan perjuangan kita untuk mempertahankan kultur dan budaya sehingga Tutur Gayo dapat dipetik hakikat pendidikannya. Menurut penulis kepedulian itu masih memiliki asa ditengah ketidakpastian, munculnya buku Tutur Gayo yang ditulis oleh Yusradi Usman al-Gayoni merupakan asa yang semakin menguatkan harapan kita terhadap keberagaman dan kekerabatan orang gayo. Buku Tutur Gayo merupakan alat pencapaian dalam bingkai pendidikan dengan tujuan membentuk tunas muda gayo dalam mencetak  kader umat yang bermoral, cerdas, berkarakter, berkepribadian dan bermental.

Menurut penulis nilai yang terkandung dalam Buku Tutur Gayo sangatlah memiliki hakikat yang luas terhadap dunia pendidikan, lebih-lebih kebudayaan yang kita miliki semakin hilang oleh arus (globalisasi, modernisasi dan kehidupan hedonistis) yang perlu kita hindari dan dibatasi dengan sarana dan kepedulian terhadap pentingnya pendidikan melalui keragaman dan kekerabatan (Tutur Gayo).

#Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiah Jakarta.

Sampingan

 POTRET TARIK …


Gambar

 

POTRET TARIK ULUR KESEJAHTERAAN BANGSA TERHADAP RAKYAT

*OLEH : KHAIRUL RIJAL

 

Setiap manusia yang melakukan aktifitasnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara mempunyai ragam dan memiliki tingkah dan prilaku yang berbeda, tentunya tidak lepas dari ambisi dan ego yang tinggi dan untuk menselarakan itu semua dibutuhkan seorang pemimpin yang siap pakai dan bisa menentukan tipe kepemimpinan apa yang layak dia pakai dalam sebuah tatan kehidupan tersebut, pada dasarnya apa yang diminta masyarat saat ini cukup sederhana yaitu haknya berupa kesejahtraan dalam arti yang cukup luas, yaitu kesejahteraan pendidikan, pembangunan,sosial, kesehatan dan ekonomi. Jika ini semua terpenuhi maka tidak ada lagi yang namanya kehancuran pendidikan, moral, sosial, ekonomi dan tentunya kehancuran dalam kesejahteraan. Tapi sampai saat ini hanya segelintir dari mereka yang mendapatkan haknya dan masih banyak yang menangis, masih banyak yang menderita bahkan ada yang mati dalam keadaan lapar. Ironis memang jika hal ini terjadi di negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan yang kaya akan keanekaragaman flora dan faunanya, sampai saat ini kita dibingungkan dengan siapakah yang bertanggung jawab atas kerancuan ini semua?

Menurut penulis ketidak merataan kesejahteraan bangsa kita saat ini terjadi karena terdapat konsep yang salah dalam pembangunan, terdapat konsep yang salah dalam langkah-langkah ekonomi yang dilakukan pemerintah dengan kebijakannya. Inilah yang menyebabkan kesenjangan dalam kesejahteraan dan hanya segelintir orang yang bertambah kaya tetapi semakin banyak orang yang bertambah miskin, dan hal ini tidak diakui pemerintah yang selalu bertahan pada jumlah statistik bahwa kemiskinan diindonesia menurun. Padahal apa yang terjadi dilapangan sungguh sangat berbeda dengan statistik yang dimilki pemerintah saat ini, masih banyak orang yang miskin dan masih banyak anak bangsa yang hampir mendekati kemiskinan, tidak menutup kemungkinan hal ini tidak tersebut dalam jumlah statistik yang dimiliki oleh pemerintah. Tapi jika terjadi kenaikan harga terhadap kebutuhan rakyat mereka yang hampir miskin langsung miskin apa lagi bagi mereka yang berada dilevel gelandangan, mereka tidak akan merasakan sesuap nasi dan hilang dari muka bumi ini.

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam sektor perekonomian saat ini masih nihil dan masih mementingkan sedikit orang untuk kepentingan pribadi dan tidak memberikan ruang dan angin segar terhadap masyarat khusunya bagi mereka yang membutuhkan, seharusnya mereka yang terbalut oleh kemiskinan mendapatkan haknya dari negara, seperti yang tertera dalam UUD pasal 34 tahun 1945 mengatakan bahwa “ pakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara “, dan apakah terjadi kesalahan dalam kontek dipeliharaan ini? Justru dengan kata “ pelihara “ tersebut kemiskinan semakin terpelihara, sebenarnya dalam kontek UUD pasal 34 terbut tidak terdapat kesalahan, tetapi mereka yang menjalankan amanat tersebut yang perlu dipertanyakan, pada dasarnya tujuan dari UUD tersebut supaya mereka yang beradalam garis kemiskinan disantuni diberdayakan diberi life skill agar derajat mereka naik dan tidak lagi jatuh dalam lubang yang sama yaitu kemiskinan. Seperti yang kita ketahui APBN kita yang terus naik dari tahun ketahun yang bahkan tahun ini naik sampai seribu tigaratus teriliun, dengan dana ini pemerintah mestinya dapat memberi napas dan menjalankan amanat pemerintah terhadap mereka yang masih terus merasakan kemiskinan, tinggal bagaiman langkah yang dilakukan pemerintah menutup lubang aib bangsa ini dan mengalokasikan dana tersebut untuk menyantuni mereka yang berada digaris kemiskinan dan mereka yang berada dilevel gelandangan. jika pemerintah dengan bangga mengatakan pondasi ekonomi bangsa kita saat ini cukup kuat dan memiliki cadangan devisa sabesar seratus meliar dolar tapi mengapa level kemiskinan termasuk gelandangan naik dari perigkat ke- 15 ke- 5, ini sebuah ironi dan ini merupakan pukulan yang keras terhadap pemimpin bangsa ini.

“ Sungguh sangat disayangkan bila kita miskin dinegeri nabati, sungguh sangat disayangkan jika kita miskin dinegeri bahari dan sungguh sangat disayangkan jika kita menjadi tamu dinegeri sendiri ”, mestinya para pejabat di DPR melihat potret kemisikinan bangsa ini, semakin penderitaan ini di ulur-ulur dengan alasan sistem dan mekanisme yang ada semakin bertambah penderitaan bagi rakyat kecil yang dari hari kehari dan dari waktu ke waktu mati karena tidak mendapatkan sesuap nasi karena lapar.  Minimnya alokasi dana yang kurang dari 20 persen saharusnya deberikan kepada mereka yang berhak justru ini juga hilang dimakan oleh mereka para koruptor,kehilangan dana untuk pendidikan, dana untuk kemiskinan, dana untuk bencana lenyap dicuri secara halus oleh koruptor yang tidak mempunyai hati nurani, paling tidak uang rakyat hilang 1003 triliun raip dalam kurun waktu tujuh tahun seperti yang disebutkan BPK.

Menurut penulis pemerintah harus tegas dalam menanggapi masalah ini dengan memakai hati nurani dan tingkat spritual yang lebih kuat agar tercapainya kebahagian dunia dan akhirat, dan pemerintah diharapkan memahami betul bagaimana beratnya amanah yang diberikan kepada mereka dan tidak menganggap amanah seringan kapas yang mudah disambar api. Menurut penulis budaya tarik ulur kemiskin yang terus berlanjut harus segera ditindak lanjuti dengan bijak, terbentuknya bangsa yang sejahtera itu ditentukan oleh kerja keras pemerintah yang memegang nasib bangsa ini, harapan kita sebagai rakayat indonesia adalah terbentuknya sebuah bangsa yang mampu menjawab segala permalahan yang terjadi saat ini dan selanjutnya.

 

 *Penulis Adalah: Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiah Jakarta

 

 

 

 

 

Ekonomi Islam Versus Kapitalisme


 

Oleh khairul rijal

Islam adalah agama universal yang mencakup segala aspek kehidupan termasuk masalah eknomi. Ekonomi islam merupakan bagian dari Islam itu sendiri yang tidak hanya berorientasi pada aspek dunia saja, akan tetapi juga memiliki orientasi pada aspek ukhrawi. Dan inilah fallah atau keseimbangan yang diinginkan orang Islam. Dalam prakteknya ekonomi islam sangat berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, kalau ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang hanya menekankan pada aspek dunia dan hanya menguntungkan pada pemiliki modal, serta cendrung membawa kesensaraan pada kebanyakan rakyat terutama rakyat di negara berkembang, namun dalam perjalanannya sistem ekonomi kapitalis sering dihinggapi berbagai kegagalan seperti ketidak mampuannya menahan gelombang krisis. Salah satu contohnya krisis yang menimpa Amerika pada tahun 2008 dan tragedi itu terulang lagi yang menimpa Yunani dan negara-negara di kawasan Eropa. Ini semua merupakan bukti nyata bahwa sistem kapitalis selama ini diagung-agungkan tidak mampu membawa umat kepada kesejahteraan malah menjerumuskannya pada lembah kesengsaraan.

Dunia perekomonian berjalan dengan penuh ketidak seimbangan dengan beberapa fase yang pernah dilewati, meskinpun timbul wacana yang konkret dalam menangani masalah ini tetap saja melahirkan ketidak pastian. Hal ini dikarenakan laju inflasi yang tinggi, perekonomian dunia mengalami resesi yang tidak pasti, selanjutnya diiringin dengan suku bungan rill yang tinggi dan fluktuasi dan valuta asing yang tidak jelas. Akar masalah inilah yang menimbulkan kehawatiran yang justru melemahkan penangan-penangan yang pada akhirnya melahirkan ketidakpastian. Ditengah pesatnya hegomoni kapitalisme saat ini justru mengalami pembengkakan dalam defisit neraca pembayaran dan ketidak mampuan negara berkembang untuk mencicili utang negara mereka. Kemiskinan tumbuh subur ditengah-tengah orang kaya, bahkan hal ini terjadi diseluruh seantero dunia. Bentuk hegomoni kapitalisme inilah yang menyebabkan adanya ketidakadilan sosioekonomi.

Umer Chapra (2000), mengatakan bahwa para ekonom tentu akan cendrung setuju dengan pandangan bahwa tak ada teori (ekonomi) terdahulu yang tampak mampu menjelaskan krisis ekomoni dunia saat ini. Artinya kesimpulan teori ini sangat berkenaan dengan sebuah ayat yang artinya “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (Ar-Ruum: 41)

Ekonomi Islam Sebagai Solusi

            Sebagaimana penjelasan di atas bahwa sistem ekonomi Islam sangat berbeda dari sistem kapitalis. Hal ini bisa kita lihat dari tujuan yang ingin dicapai oleh ekonomi Islam yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tujuan ekonomi Islam tidak hanya mengedepankan aspek materi saja, akan tetapi juga menguatamakan aspek-aspek lain yang merupakan bagian penting untuk mencapai kebahagiaan. Dimensi keimanan merupakan fondasi bagi seluruh perilaku individu dan masyarakat. Jika keimanan seseorang kokoh dan benar, maka niscaya semua interaksi antar manusia akan baik pula terutama dalam kegiatan ekonomi. Keimanan yang kuat nantinya akan melahirkan perilaku atau akhlah yang mengarah pada terwujudnya maslahah untuk mencapai falah, hal ini sangat berkaitan dengan teori yang dikatakan oleh Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa “tujuan utama syariat adalah mendorong kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan kepada keimanan, kehidupan, akal, keturunan, dan kekayaan mereka. Apa pun yang menjamin perlindungan lima perkara ini akan memenuhi kepentingan umum dan dikehendaki”

 Dengan demikian, sebagai sistem yang bersumber dari ajaran Islam adalah solusi terbaik untuk mengeluarkan negara ini dari belenggu krisis yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme. Karena ekonomi Islam menentang segala bentuk spekulatif yang didorong oleh suku bunga dan pengabaian terhadap sektor riil. Ekonomi Islam bertujuan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan bagi setiap individu yang membawa mereka kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Disamping itu juga ekonomi Islam lebih menitikberatkan kepada pemahaman hakikat dari riba dan larangannya. Perhatian utama ekonomi Islam tertuju pada upaya bagaimana manusia menyeimbangkan antara kebutuhan pokok dan budaya konsumtif agar tidak tergulung oleh kesenangan yang bersifat sementara dan meningkatkan kesejahteraan materialnya yang sekaligus akan meningkatkan kesejahteraan spiritualnya. Kerena aspek spiritual harus hadir bersamaan dengan material, maka diperlukan sarana penopang utama, yaitu moralitas dari para pelaku ekonomi. Moralitas merupakan panduan yang akan menuntun pelaku ekonomi dalam melakukan kegiatan ekonomi sesuai dengan ajaran Islam. Baik pelaku ekonomi sebagai produsen, konsumen, maupun sebagai distributor. Dan dengan moralitas itu pula umat manusia bisa memperoleh kemakmuran, keamanan, dan keadilan sehingga kesejahteraannya pun semakin meningkat.

 

*Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Belajar Dari Suksesnya Pendidikan Di Finlandia


Oleh Khairul Rijal

Ditengah pasang surutnya dunia  pendidikan  di Indonesia dengan arus gelombang yang naik turun yang terus melahirkan interpretasi dari beberapa pengamat disebabkan output yang di hasilkan kurang signifikan dari tubuh pendidikan yang kita rasakan saat ini. Pendidikan di Indonesia diharapakan bisa berinovasi dengan melakukan langkah yang berdampak positif bagi anak didik yang menjadi tumpuan bangsa. Untuk itu dibutuhkan sistem yang bisa menunjang reaksi positif agar kegiatan pendidikan dan pengajaran ini dapat dirasakan mamfaatnya secara universal. Kendala yang dihadapi bangsa dalam dunia pendidikan saat ini terletak pada orang tua, guru dan peserta didik itu sendiri. Orang tua merupakan hakikat sebenarnya dalam membentuk karakter seorang anak karena orang tua merupakan sosok guru yang hakiki, namun ketidakpastian tetap berlanjut dari makna hakiki tersebut akibat orang tua tidak tahu perannya sebagai pendidik. Misalnya orang tua lebih memaksakan anaknya kepada jurusan yang mereka inginkan akan tetapi anak tersebut lebih cocok dengan jurusan yang ia pelajari, selanjutnya kurangnya kedekatan antara anak dan orang tua. Hal ini terbentur akibat orang tua meluapkan masalahnya dengan kekerasan kepada anak akibat kesalahan yang dilakukan anak. Inilah sumber mendasar yang menimbulkan fenomena kurangnya kasih sayang, hilangnya mental dan moral dari anak itu sendiri. Dapat dikatakan masalah keluarga merupakan masalah yang memisahkan peserta didik dari dunia pendidikan.

Dilema yang terjadi pada prilaku seorang pendidik saat ini hanya beberapa yang mementingkan kualitas dikarenakan asumsi yang tersangkut pada budaya konsumtif dan meraih kentungan. Bukan prestasi yang di banggakan akan tetapi materi yang di utamakan. Guru merupakan faktor yang sangat menentukan berhasil atau gagalnya seorang murid, akan tetapi bagaiman jika seorang pendidik tidak mementingkan kualitas malah lebih mementingkan materi ( baca: gaji, tunjangan ). Dilema inilah yang menyebabkan terjadinya pasang surut arus pendidikan di negara kita. Fenomena yang terjadi pada anak bangsa sangatlah bertolak belakang dari tujuan sekolah sebagai sentral arena belajar. Bagaimana tidak, ditengah pesatnya perkembangan yang serba instan, murid juga mengambil alih dengan jalan yang salah, tampak jelas tidak ada batasan antara murid dan lingkungan, meskipun timbul wacana penanganan masalah ini, murid justru terlena dengan budaya bolos, contek mencontek dan  juga terjebak dengan budaya taqlid ( baca: mengikuti tapi tidak tau subtansi dari apa yang di ikuti), tidak cukup sampai disitu seolah-olah murid dikejar oleh waktu bukan murid yang mengejar waktu. Hal ini terjadi karena suburnya budaya malas.

 

Cermin Pendidikan Finlandia Sebagai Solusi

            Bangsa kita perlu melakukan suatu perubahan khususnya di dunia pendidikan salah satu cara ialah mengambil pengalaman dan sistem pendidikan dan pengajaran dari negara yang mempunyai potensi dan menjujung tinggi apresiasi terhadap guru. Saat ini negara yang mempunyai sistem pendidikan yang berkualitas baik di dunia adalah Finlandia. Negara ini mendapat peringkat pertama di dunia berdasarkan hasil survei internasional secara komprenhensif pada tahun 2003 oleh Organization For Economic and Development (OECD). Program survei ini lebih dikenal dengan nama PISA (Programme International For Student Assesment). Survei ini dilakukan berdasarkan 3 kategori yaitu membaca, sains dan matematika. Kunci sukses Finlandia bisa unggul dan mampu mengalahkan negara maju khususnya dikawasan Eropa, ternyata terletak pada peran orang tua, guru dan efesiensi waktu.

Mengajar adalah karir prestisius di Finlandia, guru sangat dihargai dengan standar pengajaran tinggi. Gaji guru di Finlandia tidaklah sebesar prestasi yang mereka cetuskan dalam mencerdaskan negara, meskipun anggaran untuk pendidikan di Finlandia cukup tinggi. Lulusan sekolah menengah terbaik di Finlandia justru mendaftar untuk dapat masuk ke sekolah pendidikan, hanya 1 dari 7 pelamar yang diterima, hal ini dikarenakan proses seleksi begitu ketat bahkan lebih ketat dari kedokteran dan hukum, budaya sangat mendukung berhasilnya pendidikan di Finladia karena para siswa belajar dalam suasan santai dan informal, Finlandia menerapkan sistem pengarahan guru bantu, fungsi dari guru bantu ini ditujukan untuk mengarahkan murid yang mengalami kesulitan dalam materi pelajaran tertentu, meskipun demikian murid ditempatkan diruangan yang sama tanpa membendakan yang mampu dan tidak dalam materi pelajaran. Guru juga melakukan pendekatan yang lebih kepada murid ketika proses belajar mengajar sedang berjalan.

OECD menilai Finlandia memiliki jam pelajaran paling pendek dibandingkan negara Eropa lainnya, jam pelajaran yang dimiliki negera tersebut hanya 30 jam perminggu. Jika negara lain menganggap bahwa ujian dapat mengukur kemampuan dan prestasi para siswa, Finlandia menganggap bahwa terlalu banyak tes hanya semata-mata proses ujian hanya untuk lulus sekolah, seorang guru ditugaskan untuk menangani masalah belajar dan prilaku murid dan membuat program indivudual, penekanan dilakukan agar tercapai tujuan yang diharapkan, penekan tersebut seperti masuk kelas tepat waktu, membawa buku dan tugas PR yang diberikan tidak perlu menjawab dengan benar yang terpenting adalah kemauan untuk mengerjakan.

Peran orang tua merupakan kunci utama dalam menangani kendala yang dihadapi anak khususnya belajar, orang tua sangat menghindari sesuatu yang berdampak negatif terhadap anak, menanamkan budaya membaca merupakan tugas utama dengan melakukan komunikasi yang baik dan cara belajar yang nyaman, antara guru dan orang tua melakukan komunikasi yang lebih intensif terhadap kendala yang dihadapi anak. Metode inilah yang dipakai Finlandia dengan filsafat pendidikan “setiap orang memiliki sesuatu untuk disumbangkan, mereka yang mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tertentu semestinya tidak ditinggalkan”.

Menurut penulis bangsa kita perlu mengembalikan kembali kredibilitasnya terutama didunia pendidikan, langkah yang diambil negara Finlandia merupakan cermin bagi kita agar bangsa kita tidak terus tertinggal, menurut penulis sistem pembelajaran di Finlandia tidak jauh berbeda dengan negara kita, akan tetapi bangsa kita terbentur masalah pelaksanaannya yang kurang menjiwai dengan perasaan dan kesadaran. Harapan penulis adalah wacana tentang pendidikan di Finlandia dapat diresapi dan diamalkan, agar tercipta orang pendidik yang baik, murid yang baik serta peran orang tua yang baik terhadap pendidikan anak. Harapan bangsa adalah pendidikan dapat dirasakan secara menyeluruh, bukan hanya peserta didik semata akan tetapi guru, orang tua, murid, bahkan pemimpin bangsapun perlu mendapatkan pendidikan dengan tingkat yang berbeda.

 

*Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah (FAI) Universitas Muhammdiyah Jakarta